Trip to Malang

Kemarin hari Minggu siang, aku bersama keluargaku pergi ke Malang, ke rumah Mbak Fida. Rencana sempat mau dibatalkan karena si Aufa, anaknya Mbak Fida yang masih imut-imut waktu itu lagi sakit panas.  Tapi akhirnya diputuskan untuk jadi berangkat karena ternyata Mbak Fida sama Aufa lagi di Surabaya buat berobat, jadi sekalian lah.

Kami berangkat jam setengah dua siang. Tidak ada hal menarik selama perjalanan kecuali pemandangan khas Malang yang ndeso : sawah, sungai dan gunung (hehe, ini pujian lho :D). Akhirnya kita sampai di rumahnya Mbak Fida jam setengah lima, hampir tiga jam perjalanan. Hal yang terasa waktu nyampe adalah suhunya. Dan yang bener-bener bikin syok itu suhu airnya. ADEM PUOOOL!! Serasa air es, alhasil pada waktu wudhu aku benar-benar merasa disucikan (serasa dosa-dosaku dibakar bersama dengan dinginnya air es itu -_-“). Ternyata rumah Mbak Fida sebelahnya ada orang ternak sapi perah. Aroma celetong membawa memori nostalgia dimana dulu orang rumah masih bisnis susu sapi.

Pada hari pertama ga banyak yang dilakukan kecuali ngemil, ngemil dan ngemil (apakah cuaca dingin bikin ambisi mesin penggiling jalan terus? siapa tahu . . .). Rencananya sih malemnya pingin pergi ke BNS (secara, anak muda gitu loch), tapi berhubung waktu itu gerimis males deh (gila aja, sore ga ujan aja dinginnya kayak gitu, apalagi ini malem-malem + hujan gerimis -_-“). Tapi Mas Ayik sama Mbak Ita tetep lanjut pergi aja (dan paginya aku tahu kalau itu bukan keputusan bagus buat mereka, perjalanan ke BNSnya makan waktu satu jam sedangkan seharusnya cuma makan waktu sepuluh menit saja).

Dan malamnya, hal yang aku takutkan terjadi. Hawanya dingin amit-amit sampe susah tidur. Ditambah lagi aku tidur bareng si Fikri. Selama dia belum tidur, dia ga akan biarkan orang-orang disekitarnya tidur. Waktu udah hampir bablas ke alam sana tiba-tiba, “mas, bangun mas” sambil narik-narik tanganku . . .

WHY BROTHER?! WHY?!!!

Dan hal itu berlanjut hingga subuhnya . . . Alhasil aku sukses ga tidur semalaman. Dan Seninnya, kami pergi ke Sengkaling. Buat yang belum tahu, Sengkaling itu semacam taman hiburan keluarga yang lumayan luas. Begitu kami sampai dekat kolam renang, si Fikri udah tampak gelisah. Biar berulang kali diomongin untuk tidak berenang, selangkah demi selangkah dia akhirnya sampai di kolam renang tersebut. Mau gak mau kami semua ikut nimbrung di sebelah kolam.

Dan kontan saja, dia berlari-lari (soalnya belum bisa berenang) bagai kuda yang baru lepas dari kandangnya. Njebar-njebur tanpa peduli sekitarnya. Kami yang liat dari sebelah cuma bisa ketar-ketir saja. Haduuuh . . . Apalagi waktu liat dia mau maen perosotan. Kami takutnya dia maen seluncur aja tanpa liat ada orang atau tidak dibawah. Dan yang kami takutkan terjadi, meski tidak sepenuhnya seperti yang kami takutkan. Ketika dia naik seluncuran, di depannya sudah ada anak yang siap-siap mau meluncur. Tanpa ba bi bu, langsung didorong aja anak itu . . . Sumpah, persis sama Mr. Bean, bingung mau ketawa atau pasang muka ketar-ketir.

Sewaktu Mas Ayik ndeketin dia buat ngasih tau etika di kolam renang, dia langsung ngibrit ke tempat Ila berenang. Untuk kejadian berikutnya aku ga liat langsung, cuma diceritain sama ibuku, tapi ini yang paling seru. Ceritanya kan Mas Ayik lagi ngejar Fikri yang lagi ngibrit ke kolam lain. Fikri ini pindah dari satu kolam ke kolam lain main cebur aja. Jadi dia ga nyobain kedalaman kolamnya. Nah waktu nyebur ke kolam yang dalamnya 2 meter ini yang masalah. Berhubung dia belum bisa berenang, udah hampir tenggelam dianya. Semua orang disekitar udah pada tegang ngeliat adegan ini. Malah kata ibuku ada sekeluarga asal Ambon yang ngomong ke keluarganya “Sakit apa anak itu? Sakit apa? Sakit apa?”, mungkin karena dia pernah tahu tentang autisme dan liat aksi Fikri yang kayak gini ini . . . -_-”

Alhamdulillah, ada life guard yang langsung tanggap nglemparin ban penyelamat ke Fikri. Untung dah selamat! Habis itu, Fikri langsung diceramahi habis-habisan dan sesi renang untuk hari itu pun diakhiri. Weleh-weleh, atinya Ibu, Mbak Ida, Mbak Ita sama Mas Ayik katanya ilang sejenak waktu kejadian itu. Tapi paling nggak ini bisa jadi pelajaran buat si Fikri sama orang yang ngawasi dia.

Setelah selesai renang, kami ikut wahana perahu motor. Nah, kalau cuma naik motor keliling-keliling saja kan ga asik, jadi pihak sana kasih bonus berupa gonjang-ganjing perahu. Buat yang muda-muda sih ga masalah, lha buat yang tua-tua kayak ibuku ini yang bahaya. Beliau kayaknya bener-bener takut perahunya bakal ngguling. Kalo udah gitu, ya bakal kayak batu deh isi perahunya . . . haha. BTW, aku nemu hal asik nih . . .

Apa yang akan anda dapatkan waktu melakukan jogress antara

dan ini

serta ini

last but not least

MENJADIIIII . . . . . .

ISTIMEWA DI SETIAP SUASANA!

Karena udah pada pegel (kayaknya tadi malam ga ada yang bisa tidur deh -_-“), jalan-jalan di Sengkaling pun diakhiri. Setelah istirahat sejenak, kami pun berangkat balik ke Surabaya. Sedih deh . . . :(, berpisah sama si Aufa (ga tiap hari ada anggota keluarga yang masih imut-imut gini). Selama perjalanan pulang kami sempat terjebak macet di daerah sekitar Porong (damned Bakr*e). Akhirnya Mas Ayik putusin buat nge-hire seorang penunjuk jalan buat lepas dari kemacetan, soalnya kalo lewat jalan itu bisa makan waktu empat jam aja buat nglewatin macetnya itu, gila deh. Dan akhirnya, kami sampai dirumah dengan membawa durian serta susu sapi segar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s